![]() |
Makalah ikan kakap merah
Di susun
oleh : Etika revolusi nusantari
Kelas: XIc
perikanan
Dinas
pendidikan kabupaten tulang bawang kec. menggala timur
Smk
negri 1 Menggala
Tahun
ajaran 2014/2015
Kata
pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan
Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya
sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai
salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca .
Harapan saya semoga makalah
ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga
saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat
lebih baik.
Makalah ini saya akui masih
banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena
itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Menggala , November 2014
Penyusun
Daftar
isi
Judul
Kata pengantar
Daftar isi
Bab I
Pendahuluan
1.1 latar
belakang
1.2 tujuan
dan kegunaan
Bab II
Pembahasan
2.1
klasifikasi ikan kakap merah
2.2
pemilihan habitat dan lokasi pemeliharaan
2.3
seleksi induk
2.4
pemijahan
2.5
penetasan telur
2.6
pemeliharaan larva
2.7
pemberian pakan
2.8
panen larva
2.9 pembesaran
ikan kakap merah
2.10
pendederan ikan kakap merah
2.11
pemeliharaan ikan kakap untuk konsumsi
2.12
cara pemberian pakan
2.13
pengelolaan air
2.14
panen dan pemasaran
2.15
penyakit
Bab III
Penutup
3.1
kesimpulan
3.2
saran
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki potensi sumber daya perairan yang cukup besar untuk usaha
budidaya ikan, namun usaha budidaya ikan kakap belum banyak berkembang,
sedangkan di beberapa negara seperti: Malaysia, Thailand dan Singapura, usaha
budidaya ikan kakap dalam jaring apung (floating net cage) di laut telah
berkembang. Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) atau lebih dikenal
dengan nama seabass/Baramundi merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai
ekonomis, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor.
Produksi ikan kakap di indonesia sebagian besar masih dihasilkan dari
penangkapan di laut, dan hanya beberapa saja diantarannya yang telah di
hasilkan dari usah pemeliharaan (budidaya). Salah satu faktor selama ini yang
menghambat perkembangan usaha budidaya ikan kakap di indonesia adalah masih
sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah yang cukup.
1.2 Tujuan
dan Kegunaan
Tujuan adalah untuk mengetahui dan memahami proses pembesaran budidaya ikan
kakap putih di air payau/tambak. Kegunaan yaitu agar dalam usaha budidaya ikan
kakap putih dapat dikembangkan pada kegiatan produksi serta mengetahui kendala
dalam usaha budidaya ikan kakap putih.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1Klasifikasi ikan kakap merah
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Family : Lutjanidae
Genus : Lutjanus
Species : Lutjanus sanguineus
Nama Lain : Ikan Kakap Merah
Pada umumnya Fauna khas yang dijadikan fauna identitas masing-masing
provinsi biasanya adalah fauna yang langka. Namun pada propinsi Kepulauan Riau
berbeda dengan propinsi yang lain Fauna khas yang dijadikan propinsi ini
bukanlah fauna langka dan dilindungi melainkan fauna yang sebarannya cukup
banyak khususnya di perairan Indonesia. Ikan kakap merah (Lutjanus sanguineus)
merupakan fauna khas kepulauan Riau, ikan ini sudah banyak dibudidayakan
disekitar perairan nusantara karena komoditasnya yang bernilai tinggi.
Ciri-ciri morfologi dari ikan kakap
merah ini adalah ; Badan lebar memanjang, kepala gepeng cembung, bagian bawah
penutup insang bergerigi. Selain itu juga gigi-gigi pada rahang tersusun dalam
rahang, ada gigi taring pada bagian terluar rahang atas, sirip punggung beruas
dengan keras 11 dan lemah 14, sirip anal beruas keras 3 lemah 8-9. Ikan ini
termasuk ikan ikan karnivora, makannya adalah ikan kecil dan invertebrata dasar
laut. Ikan ini dapat tumbuh mencapai panjang 45-50 Cm. Warna sisik bagian atas
degradasi dari warna kemerah-merahan sampai kekuning-kuningan, di bagian bawah
merah ke-putihan. Garis-garis kuning kecil diselingi warna merah pada bagian
punggung di atas garis rusuk. Ikan ini menghuni perairan tropis maupun
subtropis, walau tiga dari genus Lutjanus diketahui ada yang hidup di air tawar.
Bahkan juvenile (anak ikan kakap yang masih kecil) beberapa spesies dari genus
ini lainnya seringkali dijumpai pada hutan-hutan bakau yang ada perairan payau.
Tidak jarang pula juvenil-juvenil dari spesies yang bersangkutan ditemukan pada
batang-batang sungai yang bermuara pada hutan bakau tersebut. Ikan kakap merah
atau red snapper merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis
penting yang cukup banyak tertangkap di perairan Indonesia. Jenis ikan tersebut
biasanya tertangkap di perairan paparan (continental shelf).
2.2
pemilihan habitat dan lokasi pemeliharaan
Pemilihan habitat atau tempat pemeliharan merupakan salah satu
factor yang paling penting dalam membudidayakan ikan kakap. Seperti yang telah
diketahui, ikan kakap memiliki toleransi terhadap salinitas yang cukup tinggi.
Hal tersebut berarti bahwa ikan kakap dapat dipelihara di segala tipe air.
Tempat pemeliharan ikan kakap dapat dilakukan di tambak, kolam, ataupun
pinggiran pantai. Memperhatikan kualitas air juga amat penting dalam pemeliharaan ikan
kakap. Karena ikan kakap merupakan ikan tropis, pastikan bahwa sushu kolam
berkisar antar 27-32 drajat celcius. Pastikan juga bahwa kolam tidak terlalu
keruh. Dan apabila anda memilih untuk memelihara ikan di tambak
pinggir laut, pastikan bahwa arus air tidak terlalu deras karena dapat merusak
tambak.
2.3 SELEKSI INDUK
Kakap Putih bersifat hermaprodit protandri, sehingga dalam
fase hidupnya dapat berubah kelamin dari jantan ke betina, hal ini dapat
terjadi ketika berat induk mencapai 2-3 kg/ekor. Kematangan induk jantan dapat
dilakukan dengan mengurut perut ikan kearah lubang kelamin, jika
sperma yang keluar berwarna putih susu dan kental berarti ikan siap dipijahkan
(matang kelamin) sedangkan untuk induk betina dilakukan dengan cara memasukan
selang kanulasi ke lubang kelamin dan dihisap, telur yang
berdiameter > 40 mikron siap untuk dipijahkan. Induk jantan dan
betina yang telah matang kelamin, ditempatkan di bak pemijahan
2.4 PEMIJAHAN
Induk jantan dan betina matang kalamin dengan perbandingan 1 : 2
ditempatkan dalam bak serat kaca (fibre glass) volume 15 ton. Teknik pemijahan
manipulasi lingkungan yaitu dengan cara mengurangi air media
pemeliharaan hingga 50-60 cm pada pagi sampai sore hari, dibiarkan kena sinar matahari.
Fluktuasi suhu air yang terjadi akan merangsang induk untuk memijah. Pemijahan
Kakap Putih mengikuti fase peredaran bulan yang terjadi pada awal bulan (bulan
gelap) pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara pukul 21.00 – 24.00
WIB.
2.5 PENETASAN TELUR
Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna
transparan dengan diameter 800 – 900 mikron. Telur hasil pemijahan dikumpulkan
dengan sistim air mengalir. Sebelum telur ditetaskan direndam dengan larutan
iodine sebanyak 3 ppm selama 1 – 3 menit. Telur ditetaskan dalam akuarium
volume 100 liter, kepadatan telur + 1.000 butir/liter. Telur akan
menetas dalam waktu 18 – 22 jam setelah pembuahan pada suhu 28o –
30o C dan salinitas 30 – 32 psu. Larva yang baru menetas segera dipindahkan
ke dalam bak pemeliharaan larva.
2.6 PEMELIHARAAN LARVA
Bak pemeliharaan larva volume 10 m3, terbuat dari beton atau serat
kaca (fiber glass), air media suhu 26- 280C dan salinitas 29 - 32 ppt, aerasi
dengan semburan lembut dipasang paling sedikit 18-20 titik, usahakan bak dalam
keadaan terlindung dari pengaruh sinar matahari langsung. Larva
yang baru menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm, ditebar didalam bak
dengan padat penebaran awal 10 ekor/liter air.
2.7 PEMBERIAN PAKAN
Sejak pertama larva sudah harus
diberi Chlorella kepadatan 3 - 4 x 10.000 sel/ml.
dan Tetraselmisdengan kepadatan 8 - 10 x 1000 sel/ml , hal ini dimaksudkan
selain sebagai pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air.
Hari ke 2 diberi Rotifera (Brachionus plicatilis) sampai hari ke 15 dan pada
hari ke 15 larva mulai diberi pakan Artemia, Setelah berumur 30
hari larva sudah dapat diberikan pakan cacahan daging ikan segar.
2.8 PANEN Larva
Pada bak pemeliharaan larva yang mempunyai saluran keluar maka
akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan scopnet pada saluran
tersebut. Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan
cara mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 – 20 cm,
kemudian benih ditangkap dengan scopnet. Agar larva kakap putih tidak mengalami
stress pada saat panen, dilakukan secara hati-hati dan pada penampungan
sementara diberi aerasi secukupnya.
2.9pembesaran ikan kakap merah
Pemeliharaan ikan kakap dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu pemeliharaan benih ikan kakap atau biasa disebut pendederan,
dan pemeliharaan ikan konsumsi atau pembesaran. Benih ikan kakap yang
diperoleh di alam dengan ukuran sekitar 5-10 cm langsung dibesarkan didalam
tambak atau keramba. Akan tetapi, benih yang diperoleh dari Balai Benih ikan
sebaiknya lebih dahulu didederkan dikurungan tersendiri.
2.10 Pendederan Ikan Kakap merah
Pendederan benih ikan kakap biasanya dilakukan dengan menggunakan
keramba apung yang berukuran kecil, seperti 1 x 1 x 1 meter. Benih yang
didederkan berasal dari Balai pembenihan dengan ukuran 1,5-2 cm atau berumur
sekitar 30-50 hari.
Untuk ukuran keramba seperti diatas, padat penebarannya sekitar
300-500 ekor. Pemeliharaan ikan kakapdiatas berlangsung 2-3 bulan sehingga
nantinya benih telah berukuran gelondong saat dipanen, yaitu sekitar 5-8 cm.
Ukuran ini sudah dapat ditebar ke dalam tambak.
Namun, bila didederkan lagi akan lebih baik, tetapi padat
penebarannya sedikit dikurangi, yaitu 300-400 ekor. Setelah pemeliharaan
sekitar 2-3 bulan, benih telah berumur mencapai 10 bulan atau lebih, dan ukuran
ini sangat baik berada ditambak maupun di KJA.
2.11 Pemeliharaan Ikan Kakap Untuk Konsumsi
Pemeliharaan ikan kakap ditambak dapat dilakukan dengan
system monokultur (memelihara satu jenis dalam spesies yang sama) dan
polikultur (memelihara beberapa jenis ikan/lebih dari satu jenis dalam spesies
yang berbeda).
Budidaya monokultur dapat dilakukan dengan kepadatan
5.000-6.000 ekor per hectare dengan ukuran benih yang ditebar antara 8-10 cm.
Budi daya polikultur dapat dilakukan denagn mencampurkan ikan kakapdengan ikan nila (Oreochromis niloticus) atau dengan
rumput laut. Penebaran pertama untuk ikan nila dengan padat penebaran
3.000-5.000 ekor per hectare, dan penebaran berikutnya, yaitu benih ikan
kakapdenagn padat penebaran 3.000-5.000 ekor per hectare, dan penebaran
berikutnya, yaitu benih ikan kakapdengan padat penebaran 3.000-5.000 ekor
per hectare.
Untuk polikultur ikan kakap dengan rumput laut, padat penebaran
ikan kakap ukuran gelondongan sekitar 3.000-5.000 ekor perhektare, dan bibit
rumput rumput laut 3.000-5.000 kg per hectare. Bila pemeliharaan dilakukan pada
KJA, benih yang dipelihara disesuaikan dengan ukuran mata jarring. Hal
ini untuk mencegah lolosnya ikan-ikan yang berukuran lebih kecil dari mata
jarring.
Kriteria Ukuran Mata jarring dengan ukuran Ikan yang Ditebar.
Ukuran mata jarring
Ukuran panjang Ikan
0,5 cm 1,2 cm
1 cm
5-10 cm
2 cm
20-30cm
4 cm
30 cm
Padat penebaran di KJA untuk benih yang berukuran 10 cm atau
lebih, yaitu 8-10 ekor per meter persegi.
2.12Cara Pemberian Pakan
Pemberian pakan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:


2.13 Pengelolaan Air
Sumber air sepanjang pantai biasanya bermutu baik. Sebagian air ini harus
diganti setiap hari pada waktu air pasang melalui pintu air masuk dan pada
waktu air pasang sedang menurun dengan jalan membuka pintu air keluar.
Pengaliran air keluar sebaiknya melalui bagian bawah tambak, sedang
pemasokannya dari permukaan. Banyaknya air harus cukup untuk mengisi tambak.
Sebaiknya disediakan pompa air bila memerlukan air lebih banyak. Yang penting
juga diperhatikan adalah jaring nylon yang dipakai untuk pintu air harus selalu
bersih setiap hari dan PH air antara 7-8,5 dengan kandungan oksigen 5-6 ppm.
2.14 Panen
dan Pemasaran
Panen dilakukan selama kurang lebih setahun dengan produksi hanya sebesar
3.250-3.750 kg/ha/tahun. Cara memanen ikan kakap dari tambak dapat dilakukan
dengan berbagai cara. Untuk keperluan sedikit dapat dilakukan dengan alat
tangkap jaring, jala, bubu atau pancing. Untuk keperluan agak banyak
dengan tambak yang sangat luas dapat dilakukan dengan jaring trawl yang ditarik
oleh perahu. Kemudian ikan kakap tersebut akan dipanen semuanya dan
sekaligus membersikan tambak, caranya dengan menggunakan jaring diikuti dengan
pengeringan air dalam tambak tersebut secara total. Pada umumnya ikan-ikan
kakap hasil tambak dijual kepasar dalam bentuk segar. Ikan-ikan kakap
yang baru dipanen dari tambak ditempatkan pada keranjang banbu atau keranjang
plastik atau peti kayu dicampur dengan es curah. Kemudian diangkut dengan
truk, perahu atau kapal ke tempat pemasaran ikan. .
2.15Penyakit
Publikasi tentang penyakit yang menyerang ikan-ikan yang dibudidayakan di laut
seperti ikan kakap putih belum banyak dijumpai. Ikan kakap putih ini termasuk
diantara jenis-jenis ikan teleostei. Ikan jenis ini sering kali diserang virus,
bakteri dan jamur. Gejala-gejala ikan yang terserang penyakit antara lain
adalah, kurang nafsu makan, kelainan tingkah laku, kelainan bentuk tubuh dll.
Tindakan yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi penyakit ini adalah:
1. Menghentikan pemberian pakan terhadap ikan
dan menggantinya dengan jenis yang lain;
2. Memisahkan ikan yang terserang penyakit,
serta mengurangi kepadatan;
3. Memberikan obat sesuai dengan dosis yang
telah ditentukan.
BAB
.III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Ikan kakap merah merupakan ikan komersial yang mempunyai nilai
ekonomistinggi dengan daya saing yang sangat meningkat. Diharapkan ikan ini
dapatmenjadikan komoditas ekspor yang sangat bagus bagi perikanan di Indonesia.
Larvaikan kakap merah dapat dengan baik merespon pakan yang di berikan seperti
pakanalami jenis rotifer, artemia, udang jembret, serta pakan buatan komersial.
Larva ikankakap merah belum dapat meneruskan respon pakan yang
di berikan sehingga larvaikan mengalami kematian, akan tetapi jika larva
mendapatkan pakan yang berukurantepat dengan ukuran mulutnya,di perkirakan
larva tersebut akan dapat meneruskanhidupnya
3.2 Saran
Sebaiknya dalam usaha budidaya ikan kakap merah, perlunya perhatian
pemerintah dalam hal dapat memberikan pemecahan masalah alternatif dalam
penyedian sentral pembenihan guna untuk menunjang komoditas masyarakat
pembudidaya yang memiliki nilai yang baik dalam konsep pemasaranya.
0 komentar:
Posting Komentar